preloader-matrix

Sektor Informalitas Jakarta & Indonesia

Jakarta merupakan Ibu Kota Negara Indonesia dengan banyak keberagaman yang terkandung di dalamnya. Penduduk dari berbagai kalangan dari luar Jakarta datang ke Jakarta dengan membawa identitas budaya dari kota/daerah asal menjadikan Jakarta lebih berwarna. Pada umumnya mereka datang dengan alasan mengadu nasib ke Jakarta, berharap mempunyai kesempatan sehingga memperoleh penghidupan yang lebih baik.

Salah satu pemanis dan daya tarik dari Jakarta adalah kesempatan lapangan pekerjaan baik sektor formal maupun informal. Sektor formal dan informal disini diketahui mempunyai keterikatan yang sangat erat apalagi dengan adanya pandemi COVID-19. BPS DKI Jakarta dalam unggahan di situs web resmi tanggal 5 November 2020 mencatat sektor formal kehilangan 453.295 pekerja. Ketidakmampuan sektor formal menyerap tenaga kerja dapat berdampak kepada peningkatan tenaga kerja pada sektor infomal.

Pekerja di Indonesia diketahui masih didomisili oleh pekerja informal sebesar 57,27 persen, dibanding pekerja informal, 42,73 persen, pada 2019. Pekerja formal adalah mereka yang status pekerjaannya: i) berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar, atau ii) buruh/karyawan/pegawai. Sementara status pekerjaan informal meliputi pekerja yang berusaha sendiri, yang berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, dll.

Hasil penelitian KOTANATOMI yang dilakukan oleh komunitas “Rame-Rame Jakarta” memberikan suatu gambaran jumlah pedagang pada sektor informal dengan mengambil sampel daerah penelitian di Jalan Wahid Hasyim. Mereka membagi tipologi usaha informal berdasarkan karakteristik sifat interaksinya dengan ruang publik di Jakarta. Tipologi yang digunakan adalah:

a) Asongan – berkeliling dengan berjalan kaki
b) Kios – menetap tanpa bangunan permanen
c) Motor – menggunakan kendaraan bermotor untuk
berkeliling
d) PKL – berkeliling menggunakan gerobak
e) Sepeda – berkeliling kendaraan tidak bermotor
f) Tenda – menetap di dalam struktur tidak permanen
g) Terpal – menetap dengan cara jualan di lantai jalan
h) Warung – beroperasi dalam bangunan permanen

Adapun jumlah pedagang yang melakukan usahanya secara berkeliling di sekitar Jalan Wahid Hasyim, sebagai berikut:

Tipe Jumlah Data
Asongan 255
Motor 109
PKL dengan gerobak 2477
Sepeda 500
Berdasarkan hasil Sensus Ekonomi 2016, jumlah usaha yang tidak menempati bangunan khusus usaha (seperti pedagang keliling, usaha kaki lima dan lain sebagainya) mencapai 18,9 juta secara nasional pada 2016. Dengan fokus khusus di sektor informal, KelilinQ berusaha untuk mencapai pemberdayaan sosial di seluruh Indonesia.